Sorong – Pada hari Jumat, 25 April 2025, bertempat di Taman Wisata Alam (TWA) Sorong, telah dilaksanakan kegiatan Conservation Camp yang diselenggarakan oleh Fauna & Flora International (FFI) dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Kabupaten Sorong.
Kegiatan Conservation Camp berlangsung selama tiga hari, dimulai pada tanggal 25 April 2025 dan berakhir pada tanggal 27 April 2025. Salah satu peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah Wahyu Aji Nugroho, mahasiswa Agribisnis UNIMUDA Sorong semester empat, bersama dengan 25 peserta lainnya dari berbagai perguruan tinggi, yaitu Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong (UNIMUDA Sorong), Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong (UNAMIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, dan Universitas Victory.
Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, dan pengenalan materi. Peserta dibagi menjadi lima kelompok yang terdiri dari lima hingga enam orang. Materi pertama adalah pengenalan teknik pengamatan, yang dilanjutkan dengan praktik pengamatan alam di sekitar TWA Sorong. Pada sesi refleksi, peserta diajak untuk mengamati berbagai aspek alam, seperti suara kicauan burung, hembusan angin, daun berguguran, dan tetesan air setelah hujan. Malam harinya, setiap kelompok menampilkan yel-yel yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Hari kedua diisi dengan materi sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Materi meliputi pengenalan keanekaragaman hayati, teknik birdwatching, dan praktik fotografi satwa liar. Kegiatan ini memberikan pengalaman praktis kepada peserta dalam pengamatan satwa dan dokumentasi alam. Pada hari ketiga, peserta mengikuti kompetisi antar kelompok yang mencakup berbagai lomba sesuai yang telah direncanakan dalam roadmap kegiatan. Setelah lomba selesai, kegiatan dilanjutkan dengan istirahat, pengumuman pemenang, dan penutupan oleh Kepala BBKSDA Kabupaten Sorong.
Dalam kegiatan ini, Wahyu Aji Nugroho menyampaikan kesan positif. Menurutnya, "Ini merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat, karena tidak hanya memberikan wawasan tentang burung khas Papua, tetapi juga mengajarkan teknik memotret burung secara langsung di habitat aslinya. Selain itu, kegiatan ini membuka pemahaman tentang ekowisata, yang ternyata bisa menjadi sarana pemberdayaan masyarakat lokal." Wahyu menambahkan bahwa kegiatan ini memberinya pengalaman yang luar biasa, meningkatkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan lingkungan dan peran alam dalam kehidupan manusia. "Bagi saya pribadi, ini adalah pengalaman yang luar biasa. Saya jadi menyadari bahwa kehidupan di alam memiliki peran yang sangat penting bagi keseimbangan lingkungan dan kehidupan manusia. Kegiatan seperti ini benar-benar membuka mata dan hati akan pentingnya menjaga alam." (FA)